Dating Single Mom?

Tulisan ini merupakan respon tulisan serupa di link ini, yang ditulis oleh seorang single mom dari kultur Barat. Respon ditulis oleh seorang single mom yang hidup di kultur Timur, berdasarkan pengalaman pribadi, dengan cara berpikir yang mungkin ga Timur-Timur amat. 😀
Ada minimal sembilan poin yang ditulis mengapa dating single moms tidak semudah orang kira. 🙂 Kesembilan poin itu ditulis tentu berdasarkan pengalaman seorang perempuan yang tinggal di negeri Barat. (Amerika apa ya?) Mungkin tidak semua akan kutulis responnya, hanya poin-poin yang ‘mungkin’ hanya dialami oleh seorang single mom di Indonesia.
  1. First of all, don’t call us MILFs.
Bagi yang mungkin sangat inosen dan belum tahu singkatan apakah MILF itu, perlu saya jelaskan bahwa MILF itu singkatan dari “Moms I’d like to f*ck” atau mungkin lebih ‘simpel’nya kata itu bisa diartikan “objek seks”.
15 tahun lalu, saat saya masih super inosen, lol, saya punya kenalan seorang laki-laki yang masih berusia di awal 20-an. Dia bilang, laki-laki seusia dia sangat suka ngedate dengan perempuan yang berusia di atasnya, yang sudah (pernah) menikah, karena satu hal: mereka akan mendapatkan kepuasan seksual dengan mudah, karena perempuan-perempuan itu tak perlu lagi membentengi ‘selaput dara’ mereka yang jelas-jelas sudah sobek. LOL. (Dengan asumsi, semua perempuan yang sudah menikah telah melakukan ‘coitus’ dengan pasangannya masing-masing lho ya.)
Dan seperti kata salah seorang sobatku “semua laki-laki inginnya satu ‘itu’ mbak, jangan terlalu inosen dong”; satu ‘petuah bijak’ lol yang dia sampaikan padaku hampir 20 tahun yang lalu, saat saya masih jauh lebih inosen dibandingkan 15 tahun yang lalu. Kekekekeke …
Experiences mature people, do you agree?
Sangat mengesalkan, bagi saya pribadi, you know, jika semua laki-laki yang tertarik pada single moms selalu didasarkan pada satu hal ini. Kalau pun sampai satu hal ini terjadi itu adalah bonus, namun bukan hal utama. Jangan terlalu berpikir bahwa semua single moms segitu desperate-nya karena dianggap jablay hingga mau-mau saja diajak gituan. Lebih mengesalkan lagi jika seorang laki-laki terlihat sok moralis (di awal), “saya ga akan ngajak yang engga2 kok,” tapi baru juga 2/3 minggu berlalu, sudah ngajakin phone sex.
  1. We haven’t lowered the bar
Para single moms tidak segitu desperate-nya lah untuk mendapatkan pasangan (ngedate) sehingga merendahkan standar, apalagi jika dianggap berpikir, “siapa saja boleh deh, yang penting ada yang mau.” LOL.
Ini masih ada hubungan dengan nomor satu di atas juga. Jangan dikira hanya dengan dikirimi gambar/meme/video “I need you badly” atau “teganya dirimu nyuekin aku” kita akan mudah luruh. Apalagi dikirimin foto diri yang sedang horny, kemudian dikira kita akan serta merta ketularan horny dan menjawab, “oke deh, yuk.” You must be pulling my leg. LOL.
Kecuali, ini mungkin lho ya, kecuali jika memang kamu seorang laki-laki yang ganteng dan sexy-nya seperti Freddie Mercuri di usianya yang pas matang, sekitar 35 – 38. apalagi jika ditambah tajir, hingga ketika ngedate, ga perlu mikirin duit. Kekekekeke …
  1. We are not Daddy shopping
FYI, mungkin tidak sedikit laki-laki yang tidak siap ditinggal istri — entah karena meninggal atau perceraian — bukan hanya karena kebutuhan seks namun terutama tidak tahu kudu ngapain untuk membesarkan anak seorang diri. Hingga, bahkan di kencan yang pertama, telah berbisik ke telinga calon pasangannya, “Aku ingin kamu menjadi ibu anak-anakku.” Bagi sebagian perempuan, mungkin kalimat itu terdengar sangat sweet dan cute, lol, namun bagi perempuan lain kalimat itu mengesankan betapa tidak bertanggungjawabnya si laki-laki. Ketika memutuskan untuk punya anak, siapa pun, baik laki-laki maupun perempuan, harus siap untuk menjadi single parent, untuk mengantisipasi apa pun yang bakal terjadi.
Well, mungkin ada juga single mom yang mencari calon suami untuk membantunya membesarkan analk-anaknya, terutama dalam bidang finansial, tapi jangan digebyah uyah dong, bahwa semua perempuan seperti itu.
  1. Even if you pay, dates cost us too
Di artikel yang asli, untuk poin ini, si penulis menulis pengalamannya ketika dia harus membayar lebih mahal untuk menyewa ‘baby sitter’ yang akan menjaga anaknya ketika dia ngedate dengan seorang laki-laki. Pengalaman ini membeberkan bahwa ketika kencan, meski si laki-laki yang membayar — makan, minum, dll — bukan berarti si perempuan tidak mengeluarkan uang sepeser pun.
Di Indonesia, mungkin situasinya berbeda. Masih banyak single moms yang ‘mungkin’ mudah meninggalkan anak-anak untuk berkencan, karena mereka masih tinggal dengan anggota keluarga yang lain. Atau mungkin anak bisa dititipkan ke tetangga, dengan memberi buah tangan ketika usai kencan dan menjemput anak dari tetangga. Atau, anak-anak diajak sekalian, mungkin akan menjadi momen yang tepat untuk mengenalkan anak-anak dengan calon pasangan sang ibu. Eh? LOL.
  1. No glove, no love
Kondom, seharusnya dianggap sebagai sahabat mereka yang ‘sexually active’, tak hanya untuk pencegahan kehamilan di luar pernikahan, namun terlebih lagi untuk benteng agar tidak tertular penyakit seksual.
Sudah tahu kan ‘penemuan’ yang mengejutkan sekian tahun lalu bahwa banyak ibu-ibu rumah tangga yang tertular HIV? Hal ini memberi kita ‘pelajaran’ bahwa suami-suami para ibu rumah tangga itu menularkan penyakit itu kepada istri-istrinya dari melakukan hubungan seks yang tidak aman — alias tanpa kondom — di luar rumah, entah dengan pekerja seks, atau dengan siapa lagi.
Jika para ibu-ibu rumah tangga itu saja harus melindungi diri dari berbagai penyakit menular — misal dengan meminta sang suami menggunakan kondom — apalagi para single moms, yang bakal terkena permasalahan yang lebih berat jika mereka tertular penyakit seksual, siapa yang akan merawat anak-anak, dan biaya pengobatan yang tidak sedikit, plus time consuming.
Nomor ini bisa jadi merupakan kelanjutan poin satu dan dua di atas. Jika seorang laki-laki telah dianggap ‘lulus screening’  hingga bisa membawa seorang single mom ke tempat tidur, jangan lupa sedia kondom. 🙂
  1. We are not looking to raise another kid
Terdengar egois ya? Tapi, siapa pun boleh egois dong, tak hanya laki-laki. 😀
Tidak semua single moms menginginkan pasangan untuk mencarikan ‘ayah pengganti’ buat anak-anak mereka lho. Banyak dari mereka yang ‘hanya’ ingin memiliki hubungan yang sehat, antara laki-laki dan perempuan. Nah, ini berarti mereka pun tidak berarti siap untuk menjadi ibu tiri/sambung anak-anak si laki-laki.
Ini adalah hal penting, jadi benar-bear butuh dibahas di awal hubungan. What kinda relationship do the two people want? Jika dua-duanya tidak keberatan untuk menjadi ayah/ibu tiri bagi anak-anak pasangannya, ya go ahead. Namun, jika salah satu tidak menginginkan hal ini, jangan dipaksakan. Mending putus di awal sebelum segalanya kian runyam.
  1. Go over your hang-ups about co-parenting
Ada banyak pasangan yang meski telah berpisah, mereka tetap committed untuk membesarkan anak-anak mereka bersama-sama. Hal ini berarti memungkinkan mereka untuk terus berhubungan, terutama untuk membahas tentang apa-apa yang dikaitkan dengan anak-anak. Jadi, jangan mudah baper jika pasanganmu berhubungan dengan eks suami/istri. Mungkin mereka hanya berdiskusi tentang anak-anak, dan bukan apakah mereka akan CLBK. 😀
Namun, jika calon pasanganmu benar-benar tak lagi berhubungan dengan mantannya. Berbahagia lah. Kamu tak perlu merasa cemburu tak penting karena mantan ini.
  1. Our kids come first but we don’t come last
Bagi banyak single moms (tidak semua ya) anak-anak jauh lebih penting dibanding hal-hal lain sehingga sebelum mereka mengambil keputusan untuk mau menikah lagi, perasaan anak-anak adalah poin utama untuk menjadi pertimbangan. Namun, hal ini tidak berarti bahwa para single moms itu menganggap diri sendiri tidak penting. Mereka juga penting. Maka, satu hal sangat penting sebelum memutuskan menikah lagi adalah apakah pernikahan (baru) itu akan memberi rasa nyaman bagi mereka, sekaligus untuk anak-anak. Apakah dalam pernikahan yang baru para perempuan ini tetap cukup punya waktu (dan dana) untuk menyenangkan diri sendiri, tak melulu harus mengurus pasangan (yang baru) dan anak-anak, apalagi jika ditambahi dengan anak-anak dari pasangan (yang baru).
Saya mengenal dan mendengar cerita banyak perempuan yang menikah lagi hanya dengan mementingkan perasaan mereka sendiri, dan mengesampingkan perasaan anak-anak yang dihasilkan dari pernikahan sebelumnya. Atau bahkan mengingkari kenyataan bahwa mereka punya anak dengan cara menitipkan anak-anak kepada orangtua, agar bebas untuk menikah lagi. Hal seperti ini akan menimbulkan masalah yang cukup besar di kemudian hari. Jadi, sebaiknya dihindari deh.
  1. We have so much less time to waste
Single moms yang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan finansial tentu tak punya waktu luang hanya untuk berhura-hura. Mereka tentu telah mempertimbangkan segala hal secara matang sebelum melakukan ini itu itu ini. Jika kencan dengan seorang laki-laki hanya akan membuang-buang waktu, dan tak ada manfaatnya, tentu mereka lebih memilih menghabiskan waktu dengan anak-anaknya. Atau menikmati ‘me-time’ dong. 🙂
Mengacu ke paragraf di atas, jika seorang laki-laki hanya tertarik pada seorang perempuan namun tak mau menerima anak yang akan dibawa si perempuan itu dalam pernikahan, sebaiknya tidak usah bermain-main dengan perempuan ini. Tak semua single moms punya waktu luang untuk main-main tidak jelas. Trauma seorang anak yang tidak diinginkan oleh sang ibu karena sang ibu memilih menikah dengan laki-laki lain, ketimbang merawat dan membesarkan anaknya sendiri akan menghasilkan trauma-trauma lain, dan korban-korban lain.
gambar diimpor dari sini
Women were born to nurture, not to get nurtured?
Saya pernah membaca pernyataan ini somewhere, tapi lupa dimana. Oke, bila dihubungkan dengan satu waktu sekian ribu tahun yang lalu, setelah kaum perempuan menemukan teknologi bercocok tanam, saat dimulainya dikotomi area kekuasaan: laki-laki di luar rumah untuk berburu binatang, perempuan di rumah untuk bercocok tanam (di ladang sekitar tempat tinggal). Namun, konon, sebelum teknologi bercocok tanam ditemukan (oleh kaum perempuan), tentunya laki-laki perempuan sama-sama berburu dong? Ketika kemudian perempuan mulai bercocok tanam, mengapa mereka harus mendadak menerima ‘takdir’ sebagai nurturer? Bukan lagi hunter?
Dalam drama “The Cocktail Party” karya T. S. Eliot, ada satu tokoh perempuan, Celia, yang panggilan jiwanya adalah to love others, to dedicate her life for others. Kebahagiaan yang sempurna dia dapatkan setelah mendarmabaktikan hidupnya sebagai “sister” di satu komunitas pagan. Sementara itu, dalam novela “The Yellow Wallpaper” karya Charlotte Perkins Gilman, sang tokoh utama, perempuan tak bernama, dikisahkan sebagai seorang perempuan yang bahkan tak mampu mencintai anak yang dia lahirkan sendiri.
“Personal is political”
Prinsip kaum feminis ini cocok diterapkan dalam segala situasi. Perempuan adalah makhluk sempurna, complete, dan memiliki hak penuh untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, apakah dia akan menjadi seorang nurturer, hunter, atau apa pun juga. Tanpa laki-laki dalam hidupnya, dia telah ‘complete; tanpa memiliki anak, dia juga makhluk ‘complete’. Dengan memiliki pasangan hidup, atau mungkin anak, tak akan membuatnya ‘lebih lengkap’ ketimbang tidak punya.
LG 11.54 06-Mar-2019
Iklan

What makes people fall in love?

Pertanyaan super iseng ketika aku mencari-cari ide untuk menulis sesuatu sekedar untuk mengisi blog. 🙂

 

fallinlove

Seperti yang kutulis di unggahan berjudul ‘falling in love with people we cannot have‘, ada 3 hal yang akan membuatku klepek-klepek pada seseorang. Pertama, jujur saja, good look. Kedua, seseorang yang mampu membuatku merasa nyaman menjadi diriku sendiri. Ketiga, seseorang yang cerdas. Ini urutannya sesuai dengan yang kutulis di unggahan yang sama ya.

 

Yang pertama, good look, tentu hanyalah di awal saja. Jika good look ini tidak diikuti dengan poin kedua — seseorang yang membuatku merasa nyaman — tentu rasa ketertarikan yang kuat ini akan hilang. Setelah rasa itu hilang, baru kita akan sadar bahwa rasa yang pernah hadir dalam hati hanyalah ketertarikan belaka, tidak sampai ke rasa yang bisa kita kategorikan sebagai ‘jatuh cinta’. Poin yang kedua ini pun masih harus diikuti dengan poin ketiga. Jika seseorang yang bisa membuatku merasa nyaman ini tidak bisa mengimbangi caraku berpikir — terus terang, aku memang egois, pinginnya orang yang dekat denganku mampu mengimbangi caraku berpikir, jika dibalik, dia memintaku mengimbangi cara berpikirnya, aku bisa ngambeg, terutama jika dia much more intelligent than me. Kekekeke … I would ‘downgrade’ him to my level. Hahahahaha …

 

So, aku sudah tahu jawabanku atas pertanyaan yang kujadikan judul unggahan ini dong ya? Ya, in this case, I understand myself. (thank god, finally! Wkwkwkwk …)

 

Honestly, this question has kept haunting me since Ranz told me about someone we know. Seseorang ini (konon) jatuh cinta pada seseorang yang menurutku hanya indah dipandang dari jauh, namun engga deh kalau dijadikan soul mate. Kekekekeke …

 

Aku memang jahat. LOL.

 

Eh, aku berpikir maka aku ada. Oh, ga. Aku nyinyir maka aku menulis untuk blog. Kekekekeke …

  1. S.:

Poin ketiga lah yang menjadi trigger utama aku meninggalkan my ex, selain tentu saja karena caranya yang memperlakukanku dengan tidak semestinya di tahun-tahun ketiga – keenam pernikahan kita. Ketika akhirnya dia berjanji berubah, aku telah menemukan kepercayaan diri yang tinggi untuk berpisah darinya. Too late, buddy.

PT56 20.54 24Feb2019

Falling in love

in love

FALLING IN LOVE WITH PEOPLE WE CANNOT HAVE

Honestly, I love looking at good-looking people. As a straight woman, of course, especially good-looking men. Perempuan cantik buat apa kulihat, ya kan? Lol. Kalau perempuan, beda lagi, aku akan sangat menyukai perempuan yang cerdas. Kalau perempuan cantik, entar aku tersaingi dong. Kekekeke …

 

Sekitar 15 tahun yang lalu, aku merasa pernah jatuh hati pada seorang laki-laki yang di mataku indah dilihat. (Selalu jangan lupa bahwa ‘beauty lies in the eyes of the beholder’ ya, indah di mataku, belum tentu indah di mata orang lain.) He was a good flirt hingga aku terlena. Sayangnya he was married. Poor me, eh? Lol. Aku pun terbelah menjadi dua, ingin terus menikmati hubungan (rahasia) kita namun aku tahu itu tak seharusnya kulakukan.

 

Akhirnya aku meninggalkannya, melupakan hubungan kita, meski aku melabelinya “lelaki terindah”. Yang indah kita lihat, belum tentu tetap nampak indah jika kita miliki. LOL. Begitu kan? LOL.

 

Beberapa tahun kemudian kita sempat bertemu lagi, sekali kopi darat, namun kemudian tak berlanjut, karena tak lama setelah itu, aku bertemu seorang laki-laki lain, yang sempat membuatku merasa terpuja sedemikian rupa. Hubungan yang juga hanya sesaat ini (dan kita tak sempat kopi darat meski dia sering menyambangi kotaku) membuatku ‘sembuh’ dari tergila-gila pada sang lelaki terindah yang kutemui 15 tahun lalu itu. Laki-laki ini mampu membuatku berubah pikiran bahwa bukan good look yang akan membuatku ‘setia’ pada seorang laki-laki, namun kemampuannya membuatku merasa nyaman menjadi diriku sendiri, bahkan hingga mengisahkan hal-hal yang seharusnya bersifat pribadi.

 

Dua tahun kemudian aku merasa tergila-gila pada laki-laki lain, bukan karena good look yang dia miliki, maupun kemampuannya membuatku merasa nyaman menjadi diriku apa adanya, namun karena tulisan-tulisannya yang cerdas. Aku yang sedang dalam perjalanan spiritual (dari seorang relijius menjadi seorang sekuler dan dalam tahap menuju agnotisme) tergila-gila pada tulisannya yang kadang menulis tentang hal ini. He labeled himself a Deist. Aku tidak tahu what he really looked like karena di blognya tak kutemui fotonya yang nampak jelas. Kita berhenti saling menyapa setelah media sosial tempat kita bertemu tak lagi aktif. Dengan keukeuh dia tak mau pindah ke facebook, meski dia akhirnya luluh membuat akun di twitter. Aku bisa menemukannya dengan mudah jika aku online di twitter, tapi aku memilih menjauhinya. Sebelum medsos tempat kita bertemu pertama kali menghilang, dia sempat mengirim undangan perkawinan yang membuatku patah hati. Lol.

 

falling-in-love-quotes

 

Empat tahun kemudian aku bertemu dengan seorang laki-laki yang sejenis laki-laki yang kutemui 15 tahun lalu, sang lelaki terindah itu. He was good-looking and a good flirt. Sejumlah puisi kasmaran mendadak kutulis untuknya. Kekekekeke … namun kita ga pernah benar-benar dekat, ga pernah ngobrol dari hati ke hati, hingga aku ga yakin apakah rasa yang dia hadirkan itu benar-benar rasa kasmaran seperti rasaku pada sang Deist itu. Beberapa bulan setelah dia menghilang dari hari-hariku (he was in fact married, plus he had a girlfriend) rasa kasmaran itu pun pergi.

 

Konon jika rasa ‘itu’ pergi begitu saja tak sampai 4 bulan, itu hanya terpesona, bukan jatuh cinta. Ok. Aku hanya terpesona pada flirt-nya. 🙂

 

Beberapa bulan lalu seorang laki-laki mengaku jatuh cinta padaku, dia sangat ingin menikahiku di tahun 2019 ini. Di mataku dia biasa-biasa saja, not good-looking. Mungkin hanya ‘sepeda’ yang bisa menyatukan kita. Sialnya, dia tak hanya tidak good-looking di mataku, namun juga tak memiliki apa yang dimiliki sang Deist, kecerdasan yang bakal membuatku klepek-klepek. Sang Deist itu memang telah menjungkirbalikkan cara pandangku. Lol. Herannya, meski di facebook aku berteman dengan beberapa laki-laki yang cerdas, tulisan-tulisannya membuatku terkagum-kagum, rasa itu berhenti di ‘kagum’ saja, tak sampai klepek-klepek. Lol.

 

“Kamu masih saja single, to mbak?” tanya seorang perempuan yang pernah menjadi rekan kerja di satu instansi sekian tahun lalu.

“Hu um. Yang naksir sih banyak. Whuzzup?” jawabku, enteng. Lol.

“Segeralah pilih salah satu, keburu tua lho entar,” kompornya. Lol.

“Lha wong memang sudah tua.” jawabku cuek. Lol. “I don’t mind being single, deary,” kataku lagi.

 

Well, waktu memutuskan untuk menceraikan ayahnya Angie, anakku satu-satunya, aku telah berkata pada diriku sendiri, aku tidak akan keberatan jika harus terus hidup sendiri. Oh no. aku tidak sendiri. Ada Angie.

 

Plus, I have one (biking) soul mate who will dedicate her life for me. Kadang, jika perasaan ingin menikah muncul, aku berpikir, jika soul mate ku itu laki-laki, tentu sudah sejak 8 tahun lalu dia kunikahi. Kekekekeke … She has been the best so far.

LG 13.25 16 Feb 2019

Tentang seorang sahabat

Aku mengenalnya 20 tahun yang lalu, tahun 1999, ketika pertama kali dia datang ke tempatku bekerja, sebagai karyawan baru. Tak lama kemudian begitu saja kita menjadi akrab, kutengarai karena sifatnya yang supel menghadapi orang, sehingga aku yang seorang aloof mudah dia dekati. Sebagai seorang perempuan, sifat supelnya itulah yang paling menonjol dari dirinya sehingga mudah orang tertarik padanya, meski dari segi wajah dia tidak istimewa; satu hal yang dia sadari sendiri.

friends

Banyak hal yang aku timba dari obrolan-obrolan kita saat itu, terutama tentang laki-laki. 🙂 cara berceritanya yang menyenangkan, tanpa ada kesan menonjolkan diri yang membuatku takjub pada kisah-kisah yang dia ceritakan dulu.

 

“Aku telah mengenal sifat laki-laki sejak aku duduk di bangku SMP kelas 3,” katanya satu kali, sambil matanya menerawang, tanpa memberi perincian yang lebih detail. 20 tahun yang lalu, saat dia mengatakan ini, aku hanyalah seorang perempuan naif yang “foolishly loyal” pada seorang laki-laki. 🙂

1192-2

Dia mengaku tipe perempuan yang tidak bisa hidup tanpa memiliki seorang pacar yang secara fisik berada di dekatnya. Itu sebab dia terus menerus punya pacar, saat satu pacar (seriusnya) tinggal di kota lain untuk menimba ilmu. Melihat sifatnya yang supel dan menyenangkan diajak berbicara, aku yakin tidak sulit baginya ‘menaklukkan’ laki-laki. 😀 (aku kebalikannya, tipe yang jutek dan tidak pintar mencari bahan obrolan. Lol.)

 

Salah satu pacar yang (juga) dia anggap serius adalah seorang arsitek yang berusia 7 tahun lebih muda. Jujur dia bilang dia lebih menyukai laki-laki ini ketimbang pacarnya yang tinggal di propinsi sebelah. Namun akhirnya dia menikahi laki-laki yang satu tahun lebih tua darinya itu karena (1) agama yang sama (2) profesi yang dimiliki lebih menjanjikan masa depan yang lebih terjamin.

 

5 tahun pertama menikah, mereka tak jua diberi momongan. Selama itu, sang suami terkesan begitu memujanya. Sahabatku yang bukan tipe seseorang yang bisa bangun pagi, selalu dimanjakan oleh sang suami. Sang suami yang harus berangkat bekerja pukul enam pagi, akan bangun lebih pagi, untuk bersih-bersih rumah, kemudian memasak sarapan sederhana untuk sang istri. Sebelum berangkat, dia akan membangunkannya, sembari berpesan jangan lupa sarapan, yang sudah disiapkan di meja makan.

 

Bisa dibayangkan bagaimana sang suami kian memujanya setelah akhirnya dia hamil dan memberinya seorang anak laki-laki yang sehat.

 

Kita berdua sama-sama berzodiac Leo, namun bernasib berbeda. I married an asshole, she married a (sort of) saint. 🙂

 

Tahun 2003 kita berpisah. Dia mengikuti suaminya yang mengambil spesialis di propinsi sebelah, sementara aku sendiri ke Jogja, kuliah lagi. Tapi aku ingat satu hal yang pernah dia ucapkan padaku, “Laki-laki dimana-mana sama saja mbak. Mau yang nampak alim, cuek ke perempuan, apalagi yang dari luarnya saja sudah nampak ‘nakal’. One thing they want from women is the same: sex.”

 

Tahun 2006 aku meninggalkan Jogja. Dia dengan keluarganya (dia dikarunai seorang anak lagi, perempuan) pindah ke Jogja, tak lama setelah itu. Namun aku baru sempat mengunjunginya di tahun 2009. saat itu aku telah menjelma menjadi seseorang yang berbeda, yang tak lagi “foolishly loyal” to only one man, seperti yang dulu dia katakan. Lol. Banyak hal yang membuatku berubah: perkawinan yang gagal, kuliah lagi yang membuatku membaca buku-buku yang dulu tak pernah kubaca, berkenalan dengan lebih banyak laki-laki dengan berbagai jenis. Lol.  Tapi, memang benar apa yang dikatakan oleh sahabatku ini, “they all want sex.” Nana yang dulu seorang perempuan konvensional, menjelma seorang feminis (yang berubah cukup radikal), yang dulu (setengah) relijius, berubah menjadi sekuler, hingga akhirnya berlabuh di ranah agnostik.

 

Karena tinggal di kota yang berbeda, tentu kita jarang bertemu. Tapi, sekali bertemu, kita bisa ngobrol apa saja, dari A hingga Z, dari yang remeh temeh hingga yang serius. Plus satu hal yang jelas tak pernah terlewatkan adalah laki-laki. 🙂 We both are straight, dan kita tidak tabu berbicara tentang sex. Aku yang single, tentu bercerita tentang laki-laki yang mampir dalam hidupku tanpa beban, apalagi ketika akhirnya ‘teori’ yang dikatakan olehnya terbuki: “all (straight) men want sex from women (they like).” Sementara itu, aku ‘membaca’ ada yang tidak beres dalam hubungannya dengan sang suami yang memujanya itu. Namun dia tetap memilih untuk tidak bercerita. Sama seperti ‘pelajaran tentang laki-laki” yang dia dapatkan sendiri ketika duduk di bangku SMP kelas 3 yang dia simpan sendiri.

 

Sekitar satu tahun yang lalu, menjelang akhir tahun 2017 kalau tidak salah, akhirnya dia bercerita bahwa dia telah berpisah dengan suaminya. “Ternyata uang yang berlebih bisa menyebabkan seorang laki-laki berubah!” katanya. Telah cukup lama dia mengetahui sepak terjang suaminya di luar rumah. Meski kesal dan tidak terima, dia masih memaklumi tingkah laku laki-laki itu. Namun satu hal yang tidak bisa dia terima, akhirnya, adalah ketika laki-laki itu (nampak) berlabuh di satu perempuan.

 

“Mending dia bermain dengan pelacur yang berganti-ganti, paling sekali kencan berapa sih? Satu juta? Dua juta? Tapi kalau dengan perempuan yang sama, bisa puluhan juta bisa dikucurkan untuk perempuan itu tiap bulan! Uang yang seharusnya dia keluarkan untuk anak-anakku!” katanya geram.

 

Aku yakin dia sangat patah hati ketika pertama kali tahu tingkah laku laki-laki itu. Aku juga patah hati mendengarnya, karena selama ini diam-diam laki-laki itu kujadikan contoh sebagai seorang “suami idaman”; my image about him was broken.

 

Agama yang mereka anut menyebabkan mereka tidak mudah untuk bercerai. Namun, sahabatku ini juga tidak ingin bercerai, dia lebih memilih hidup dalam kehidupan perkawinan yang tidak jelas, asal anak-anaknya tetap bisa hidup tidak kekurangan, bersekolah di sekolah yang terbaik, berlibur kemana pun mereka inginkan. Surat nikah yang dia miliki adalah kekuatan buatnya untuk terus mampu membiayai kebutuhan anak-anaknya. Hingga tiba masa anak-anak itu bisa berdiri di atas kaki mereka sendiri, tanpa sokongan dana dari sang ayah.

 

=========

 

Kutulis seizin sang pemilik kisah.

LG 12.28 16 Feb 2019

Separuh Jiwaku Pergi

Kalau dipikir-pikir, dan jujur pada diri sendiri, sebenarnya aku tidak sebegitu intim dengan Ibundaku, or Mom for short. Ini jika dibandingkan dengan hubunganku dengan Angie, anakku. Kesibukan bekerja pagi dan sore semakin mengesahkan ini. Hubungan kita berdua benar-benar hubungan Ibu dan Anak yang bisa dibilang cukup formal, sekali lagi jika dibandingkan dengan hubunganku dengan Angie yang bisa dikatakan seperti dua kawan akrab. Banyak hal yang (duluuu ketika remaja) aku tak bisa ceritakan ke Mom, sehingga aku lebih memilih bercerita ke kawan dekat, atau menulis di diary. Penyebabnya bisa kurunut ke peristiwa ketika aku masih duduk di bangku SD. Namun, tak perlu lah aku tulis disini.

 

Seingatku, Mom mulai kadang sakit serius yang harus masuk rumah sakit itu tahun 2012. Yang masih kuingat jelas, saat lengan Mom (aku lupa kiri atau kanan) patah karena terbentur tembok. Mom yang sudah sakit asam urat mungkin sekitar 15 tahun sebelumnya tidak bisa berjalan dengan tegak. Kakinya tak bisa menopang tubuhnya dengan baik. Itu sebab saat oleng, Mom menggunakan lengannya untuk bertumpu ke tembok.

 

Sejak saat itu, diam-diam aku sering dihantui rasa takut Mom sakit parah hingga berujung ke akhir hidupnya. I never told anybody about this karena kupikir aku harus nampak tegar di hadapan kedua adikku.

 

Awal tahun 2018 saat Mom dirawat di RS, entah mengapa aku merasa saat yang diam-diam kutakuti itu kian mendekat. Apalagi waktu Mom masuk RS lagi di bulan April 2018 dokter yang merawat bilang ada kelainan di jantung Mom sehingga Mom sempat masuk ke ICU.

 

Aku anggap saat-saat Mom sakit itu adalah petunjuk dari semesta bahwa aku harus melepas kemelekatan. Aku dan saudara kandungku harus merasa beruntung karena ada ‘tanda-tanda’ yang terjadi sehingga kita bisa mempersiapkan mental. Ini jika dibandingkan dengan keluarga-keluarga yang mendadak kehilangan anggota keluarga yang mereka sayangi, benar-benar out of the blue.

 

Bulan Juni 2018 Mom masuk RS lagi. Well, memang kondisi kesehatan Mom sudah sedemikian parah karena Mom sering nampak tak lagi bersemangat untuk sembuh, salah satu tandanya adalah Mom susah diajak makan. Akhirnya setelah dirawat selama 8 hari, Mom pergi pada tanggal 17 Juni 2018, di depan mataku, Angie, dan Noek, salah satu adikku. Well, meski sebenarnya Mom sudah kehilangan kesadaran beberapa hari sebelum itu.

 

Aku menulis kisah itu, hari-hari terakhir aku dan adik2ku menjaga Mom yang sakit di blog sebelah. Mom pergi. (satu-satunya kakak yang kupunya tinggal di Cirebon, jadi dia ga ikutan menjaga Mom, secara fisik.)

 

Ternyata, meski hubunganku dengan Mom tidak begitu intim, kepergiannya membuat separuh jiwaku layu. 8 bulan telah berlalu, kadang rasanya Mom masih di rumah. Mungkin kedua adikku juga masih merasakan hal yang sama.

 

Recently, honestly, I start wondering how I will die. Kata seorang kawan dunia maya, sakit adalah cara yang tidak alami untuk beralih ke dimensi yang lain. Ini berarti kita seharusnya terus menerus menjaga kesehatan, agar bukan sakit yang menyebabkan kematian. Anyway, semoga saat momen itu datang, Angie anakku satu-satunya telah memiliki soul mate yang mencintainya dan dia cintai sepenuh hati. Atau seperti saat Mom pergi, aku telah memiliki anak yang bisa diandalkan untuk menemani.

 

Rest in peace, Mom. We will always love you. You will always be missed.

 

LG 20.38 Valentine’s Day 2019

Mengapa kita tak pantas lagi bilang “suka sama suka” – Versi 2.0

Suka sama suka … dari sudut pandang siapa?
Budaya patriarki tetaplah bercokol kuat dimana pun, tak hanya di Indonesia kukira. Topik “suka sama suka” ini sedang mengemuka akhir-akhir ini setelah kasus asusila yang dilakukan oleh seorang penyair ternama kepada seorang mahasiswi. Banyak yang tanpa empati menuduh sang korban — seperti banyak terjadi di kasus perkosaan yang lain — menawarkan diri hanya karena dialah yang datang ke kediaman sang penyair.

Tulisan Aquino Hayunta ini sangat mewakili suara sang korban. I love it. 🙂

GG 12.56 06122013

Kemarin, Hari Ini dan Esok

Kekerasan seksual pada bentuknya yang tradisional mungkin tidak ditemukan dalam kasus-kasus tertentu. Jangan bayangkan seseorang yang menunggu di tikungan jalan lantas menyergap perempuan yang sedang lewat lalu memperkosanya, atau maling yang masuk ke rumah sasarannya dan memperkosa karyawan rumah tangga yang sedang seorang diri menunggu rumah.

Saya sedang mengkhayalkan skenario seperti berikut:

Kekerasan itu mungkin berawal dari sebuah café di sebuah tempat kebudayaan dimana seorang laki-laki menatap seorang perempuan dan memutuskan dalam hati bahwa ia akan meniduri perempuan tersebut. Laki-laki tersebut punya perjalanan karir cukup panjang dalam bidang sastra dan sudah menghasilkan beberapa karya sastra. Lantas kesempatan itu datang dan si perempuan ini ternyata seorang mahasiswa yang menaruh minat terhadap sastra (mungkin pernah menerbitkan buku kumpulan puisinya secara indie) dan si laki-laki menawarkan berdiskusi tentang sastra secara lebih personal di kamar kost-nya.

“Ayo kita belajar baca puisi di kamar kost saya, kalau di tempat ini kita tidak bisa teriak-teriak” kata…

Lihat pos aslinya 394 kata lagi

Dalam Keseharian

sangkakala

dalam keseharian

 

kumulai pagiku kala namamu disebut

lewat corong-corong pengeras suara

yang sering mengganggu nyenyaknya tidur banyak orang

meski bukankah di zaman kekasihmu dulu

corong pengeras itu belum ditemukan?

 

kujalani detik demi detik

sejalan dengan degup jantung yang mendzikirkan namamu

namun kala corong-corong pengeras suara itu

mendengungkan namamu keras-keras

aku bergeming

 

kusambut rembulan yang menyapa lirih

bersama senandung jengkerik nan merdu

terkadang masih kudengar namamu lewat corong-corong yang sama

 

:

 

memang tak lagi cukup kah kita terpaut

hanya lewat degup

yang kau titipkan

di dada?

 

 

IB 18.02 10/06/13